Meminta dicabut nyawa atau mati kepada Allah SWT bukan lah jalan yang baik. Siapa kita mahu menentukan ajal maut kita? “Kau cabutlah nyawaku ya Allah, aku dah tak mampu tanggung derita ini” Siapa kita untuk mengarahkan Allah agar mencabut nyawa kita? Biar seberat mana pun masalah dan dugaan melanda, carilah jalan penyelesaian dan bertaubatlah.
Usia tidak boleh dijual beli atau ditawar ganti. Ikuti kupasan pendakwah terkenal dan disegani iaitu Habib Ali Zaenal Abidin Al Hamid berkenaan perangai manusia yang selalu meminta mati pada Allah tatkala diuji.
Menurut Habib Ali Zaenal, sebagai hamba Allah SWT, jangan ada antara kita yang meminta mati hanya kerana ada musibah yang menimpa diri. Baginda Rasulullah SAW bersabda: “ Mintalah kamu kepada Allah SWT Husnul Khatimah”
Di dalam hadis yang lain, Nabi SAW juga bersabda: “Kata-kata atau penyesalan yang disampaikan oleh iblis bilamana mendengar ada orang yang minta kepada Allah SWT mati dalam Husnul Khatimah, “Macam ditusuk tulang belakang aku,”kata iblis, bilamana dia mendengar orang meminta kepada Allah Husnul Khatimah.
Ads
Husnul Khatimah akan menyebabkan usaha iblis untuk menyesatkan kita menjadi sia-sia, sehingga iblis menjadi sangat geram bilamana orang meninggal dunia dalam Husnul Khatimah.
Seseorang digalakkan mati dalam keadaan Islam atau Husnul Khatimah namun DILARANG meminta mati kerana tertekan atau stress. DILARANG meminta mati disebabkan berhadapan dengan masalah dalam kehidupan.
Kalau pun mesti juga meminta mati, maka berdoalah kepada Allah SWT,” Ya Allah, hidupkan diriku bilamana kehidupan ini memberikan kebaikan kepada diriku, dan matikanlah aku bilamana kematian itu membawa kebaikan untuk diriku”.
Kalau dia orang yang diberikan umur oleh Allah SWT ialah daripada orang yang baik, maka dia boleh menambahkan keberkatan umur yang diberikan dengan kebaikannya semakin bertambah.
Kalau dia orang yang berbuat jahat, tapi masih dikurniakan umur oleh Allah SWT, ini adalah peluang supaya dia boleh insaf dan bertaubat.
Ads
Dengan demikian, TIDAK BOLEH meminta mati disebablan apa pun juga sama ada orang itu adalah orang yang baik-baik atau orang tidak baik. Peluang dikurniakan umur yang diberikan oleh Allah SWT adalah untuk menambahkan kebaikan bagi orang yang baik dan peluang untuk bertaubat bagi orang yang berbuat maksiat.
Kashoorga : Mintalah bantuan daripada Allah. Jangan meminta dicabut nyawa walau sekalipun. Sekecil mana pun masalah, ia adalah ujian daripada Allah. Allah menguji kita untuk melihat sejauh mana percayanya kita kepada kekuasaanNya.
Dia yang memberikan masalah kepada kita, maka Dia juga lah yang berkuasa mengangkat masalah itu. Berusaha cari jalan penyelesaian diiringi dengan doa dan tawakal kepadaNya.
Isian rohani buat semua peringkat umur, semoga kita KASHOORGA bersama.
Insya-Allah, kita download
sekarang ya?
Kedatangan bulan Ramadhan setiap tahunnya tak henti menjadi penghibur hati orang mukmin. Bagaimana tidak, beribu keutamaan ditawarkan di bulan ini.
Pahala diobral, ampunan Allah bertebaran memenuhi setiap ruang dan waktu. Seorang yang menyadari kurangnya bekal yang dimiliki untuk menghadapi hari penghitungan kelak, tak ada rasa kecuali sumringah menyambut Ramadhan.
Insan yang menyedari betapa dosa melumuri dirinya, tidak ada rasa kecuali bahagia akan kedatangan bulan Ramadhan.
Mukmin Sejati Itu Dermawan
Salah satu pintu yang dibuka oleh Allah untuk meraih keuntungan besar dari bulan Ramadhan adalah melalui sedekah. Islam sering menganjurkan umatnya untuk banyak bersedekah.
Dan bulan Ramadhan, amalan ini menjadi lebih dianjurkan lagi. Dan demikianlah sepatutnya akhlak seorang mukmin, yaitu dermawan. Allah dan Rasul-Nya memerintahkan bahkan memberi contoh kepada umat Islam untuk menjadi orang yang dermawan serta pemurah.
Ketahuilah bahwa kedermawanan adalah salah satu sifat Allah Ta’ala, sebagaimana hadits:
إن الله تعالى جواد يحب الجود ويحب معالي الأخلاق ويكره سفسافها
“Sesungguhnya Allah Ta’ala itu Maha Memberi, Ia mencintai kedermawanan serta akhlak yang mulia, Ia membenci akhlak yang buruk.” (HR. Al Baihaqi, di shahihkan Al Albani dalam Shahihul Jami’, 1744)
Dari hadits ini demikian dapat diambil kesimpulan bahwa pelit dan bakhil adalah akhlak yang buruk dan bukanlah akhlak seorang mukmin sejati.
Begitu juga, sifat suka meminta-minta, bukanlah ciri seorang mukmin. Bahkan sebaliknya seorang mukmin itu banyak memberi.
Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
اليد العليا خير من اليد السفلى واليد العليا هي المنفقة واليد السفلى هي السائلة
“Tangan yang di atas lebih baik dari tangan yang di bawah. Tangan di atas adalah orang yang memberi dan tangan yang dibawah adalah orang yang meminta.” (HR. Bukhari no.1429, Muslim no.1033)
Selain itu, sifat dermawan jika di dukung dengan tafaqquh fiddin, mengilmui agama dengan baik, sehingga terkumpul dua sifat yaitu alim dan juud (dermawan), akan dicapai kedudukan hamba Allah yang paling tinggi.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إنَّما الدنيا لأربعة نفر: عبد رزقه الله مالاً وعلماً فهو يتقي فيه ربه ويصل فيه رحمه، ويعلم لله فيه حقاً فهذا بأفضل المنازل
“Dunia itu untuk 4 jenis hamba: Yang pertama, hamba yang diberikan rizqi oleh Allah serta kepahaman terhadap ilmu agama. Ia bertaqwa kepada Allah dalam menggunakan hartanya dan ia gunakan untuk menyambung silaturahim. Dan ia menyadari terdapat hak Allah pada hartanya. Maka inilah kedudukan hamba yang paling baik.” (HR. Tirmidzi, no.2325, ia berkata: “Hasan shahih”)
Kedermawanan Rasulullah di Bulan Ramadhan
Rasul kita shallallahu ‘alaihi wa sallam, teladan terbaik bagi kita, beliau adalah orang yang paling dermawan, dan kedermawanan beliau lebih dahsyat lagi di bulan Ramadhan. Hal ini diceritakan oleh Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma:
كان رسول الله صلى الله عليه وسلم أجود الناس ، وكان أجود ما يكون في رمضان حين يلقاه جبريل ، وكان يلقاه في كل ليلة من رمضان فيُدارسه القرآن ، فالرسول الله صلى الله عليه وسلم أجودُ بالخير من الريح المرسَلة
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan. Dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan saat beliau bertemu Jibril. Jibril menemuinya setiap malam untuk mengajarkan Al Qur’an. Dan kedermawanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melebihi angin yang berhembus.” (HR. Bukhari, no.6)
Dari hadits di atas diketahui bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada dasarnya adalah seorang yang sangat dermawan. Ini juga ditegaskan oleh Anas bin Malik radhiallahu’anhu:
كان النبي صلى الله عليه وسلم أشجع الناس وأجود الناس
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling berani dan paling dermawan.” (HR. Bukhari no.1033, Muslim no. 2307)
Namun bulan Ramadhan merupakan momen yang spesial sehingga beliau lebih dermawan lagi. Bahkan dalam hadits, kedermawanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dikatakan melebihi angin yang berhembus.
Diibaratkan demikian karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat ringan dan cepat dalam memberi, tanpa banyak berpikir, sebagaimana angin yang berhembus cepat.
Dalam hadits juga angin diberi sifat ‘mursalah’ (berhembus), mengisyaratkan kedermawanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki nilai manfaat yang besar, bukan asal memberi, serta terus-menerus sebagaimana angin yang baik dan bermanfaat adalah angin yang berhembus terus-menerus. Penjelasan ini disampaikan oleh Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Fathul Baari.
Oleh kerana itu, kita yang mengaku meneladani beliau sudah selayaknya memiliki semangat yang sama.
Iaitu semangat untuk bersedekah lebih sering, lebih banyak dan lebih bermanfaat di bulan Ramadhan, melebihi bulan-bulan lainnya.
Dahsyatnya Sedekah di Bulan Ramadhan
Salah satu sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi teladan untuk lebih bersemangat dalam bersedekah di bulan Ramadhan adalah karena bersedekah di bulan ini lebih dahsyat dibanding sedekah di bulan lainnya.
Diantara keutamaan sedekah di bulan Ramadhan adalah:
1. Puasa digabungkan dengan sedekah dan shalat malam sama dengan jaminan surga.
Puasa di bulan Ramadhan adalah ibadah yang agung, bahkan pahala puasa tidak terbatas kelipatannya. Sebagaimana dikabarkan dalam sebuah hadits qudsi:
كل عمل ابن آدم له الحسنة بعشر أمثالها إلى سبعمائة ضعف قال عز و جل : إلا الصيام فإنه لي و أنا الذي أجزي به
“Setiap amal manusia akan diganjar kebaikan semisalnya sampai 700 kali lipat. Allah Azza Wa Jalla berfirman: ‘Kecuali puasa, karena puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya.’” (HR. Muslim no.1151)
Dan sedekah, telah kita ketahui keutamaannya. Kemudian shalat malam, juga merupakan ibadah yang agung, jika didirikan di bulan Ramadhan dapat menjadi penghapus dosa-dosa yang telah lalu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
من قام رمضان إيماناً واحتساباً غفر له ما تقدم من ذنبه
“Orang yang shalat malam karena iman dan mengharap pahala, akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari no.37, 2009, Muslim, no. 759)
Ketiga amalan yang agung ini terkumpul di bulan Ramadhan dan jika semuanya dikerjakan balasannya adalah jaminan surga. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
إن في الجنة غرفا يرى ظاهرها من باطنها وباطنها من ظاهرها أعدها الله لمن ألان الكلام وأطعم الطعام وتابع الصيام وصلى بالليل والناس نيام
“Sesungguhnya di surga terdapat ruangan-ruangan yang bagian luarnya dapat dilihat dari dalam dan bagian dalamnya dapat dilihat dari luar. Allah menganugerahkannya kepada orang yang berkata baik, bersedekah makanan, berpuasa, dan shalat dikala kebanyakan manusia tidur.” (HR. At Tirmidzi no.1984, Ibnu Hibban di Al Majruhin 1/317, dihasankan Ibnu Hajar Al Asqalani di Hidayatur Ruwah, 2/47, dihasankan Al Albani di Shahih At Targhib, 946)
2. Mendapatkan tambahan pahala puasa dari orang lain.
Kita telah mengetahui betapa besarnya pahala puasa Ramadhan. Bayangkan jika kita bisa menambah pahala puasa kita dengan pahala puasa orang lain, maka pahala yang kita raih lebih berlipat lagi. Subhanallah! Dan ini bisa terjadi dengan sedekah, yaitu dengan memberikan hidangan berbuka puasa untuk orang lain yang berpuasa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
من فطر صائما كان له مثل أجره ، غير أنه لا ينقص من أجر الصائم شيئا
“Orang yang memberikan hidangan berbuka puasa kepada orang lain yang berpuasa, ia akan mendapatkan pahala orang tersebut tanpa sedikitpun mengurangi pahalanya.” (HR. At Tirmidzi no 807, ia berkata: “Hasan shahih”)
Padahal hidangan berbuka puasa sudah cukup dengan tiga butir kurma atau bahkan hanya segelas air, sesuatu yang mudah dan murah untuk diberikan kepada orang lain.
كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يفطر على رطبات قبل أن يصلي فإن لم تكن رطبات فعلى تمرات فإن لم تكن حسا حسوات من ماء
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berbuka puasa dengan beberapa ruthab (kurma basah), jika tidak ada maka dengan beberapa tamr (kurma kering), jika tidak ada maka dengan beberapa teguk air.” (HR. At Tirmidzi, Ahmad, Abu Daud, dishahihkan Al Albani di Shahih At Tirmidzi, 696)
Betapa Allah Ta’ala sangat pemurah kepada hamba-Nya dengan membuka kesempatan menuai pahala begitu lebarnya di bulan yang penuh berkah ini.
3. Bersedekah di bulan Ramadhan lebih dimudahkan.
Salah satu keutamaan bersedekah di bulan Ramadhan adalah bahwa di bulan mulia ini, setiap orang lebih dimudahkan untuk berbuat amalan kebaikan, termasuk sedekah. Tidak dapat dipungkiri bahwa pada dasarnya manusia mudah terpedaya godaan setan yang senantiasa mengajak manusia meninggalkan kebaikan, setan berkata:
“Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus.” (Qs. Al A’raf: 16)
Sehingga manusia enggan dan berat untuk beramal. Namun di bulan Ramadhan ini Allah mudahkan hamba-Nya untuk berbuat kebaikan, sebagaimana dikabarkan oleh Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam:
إذا جاء رمضان فتحت أبواب الجنة ، وغلقت أبواب النار ، وصفدت الشياطين
“Jika datang bulan Ramadhan, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu.” (HR. Bukhari no.3277, Muslim no. 1079)
Dan pada realitanya kita melihat sendiri betapa suasana Ramadhan begitu berbedanya dengan bulan lain.
Orang-orang bersemangat melakukan amalan kebaikan yang biasanya tidak ia lakukan di bulan-bulan lainnya. Subhanallah.
‘Semoga terus kuat dan tabah.’ Puteri Sarah tidak rela bermadu, minta Syamsul Yusof lepaskannya.
Isteri pertama Syamsul Yusof iaitu Puteri Sarah Liyana merayu kepada suaminya untuk ‘melepaskan’nya kerana tidak rela dimadukan.
Pengumuman mengejutkan itu dibuat Puteri Sarah di Instagram selepas Syamsul masih menyekat nombor telefonnya selepas empat hari suaminya membuat pengakuan sudah selamat bernikah buat kali kedua.
“Kepada Mohd Shamsul, oleh kerana awak sekat saya sehingga sekarang dan tidak ajak berbincang, saya minta lepaskan saya kerana saya tidak rela dimadu,” tulisnya ringkas.
Ternyata perkongsian Puteri Sarah itu mengejutkan ramai pihak sehingga memintanya untuk terus kuat dan tabah mengharungi dugaan hidup ini.
Dalam masa yang sama, Sarah menerusi Insta Stories meluahkan rasa kecewanya dan malu dengan sikap tidak matang yang ditunjukkan Syamsul Yusof bagi pihak dua anak mereka, Syaikhul Islam, 6, dan Sumayyah, 4.
Hantaran itu dipercayai dibuat selepas Syamsul mendoakan ketenangan buat kedua-dua isterinya pada pagi ini.
“Saya cuba untuk tidak memberikan respon di atas apa-apa perkongsian tetapi berasa sangat kecewa dan malu bagi pihak keluarga serta anak-anak.
“Hal ini kerana saya tidak dapat mengawal sepenuhnya anak-anak untuk menggunakan telefon dan melihat apa yang telah beredar di media sosial.
“Jaga sensitiviti terhadap anak-anak dan keluarga awak. Malunya ya Allah, Syaikhul dan Sumayyah dapat ayah macam ni,” tulisnya.
Terdahulu, Syamsul pada 6 Januari lalu memaklumkan telah pun menikahi Ira Kazar dengan diwalikan Kazar Saisi di Thailand.
Merancang keluarga semakin jadi pilihan pasangan berpendapatan rendah?Kehadiran cahayamata adalah rezeki daripada Allah. Dan anak itu pembawa rezeki. Namun terdapat kebimbangan di kalangan suami isteri apabila memikirkan kebajikan anak-anak akan terabai berikutan pendapatan keluarga yang kecil.
Hari ini, kos hidup semakin meningkat. Ia mendatangkan dilemma kepada ramai pasangan berpendapatan rendah, takut keperluan anak tak terpenuhi.
Kita ikuti penjelasan, mantan Mufti Wilayah Persekutuan, SS Datuk Dr. Zulkifli Mohamad Al-Bakri tentang apakah hukumnya pasangan berpendapatan rendah mahu merancang keluarga. Mereka bimbang dengan keadaan ekonomi keluarga belum stabil.
Salam. Boleh saya tanya? Seseorang suami yang berpendapatan rendah, adakah perlu merancang keluarga?
Waalaikumussalam wbt, Para ulama berbeza pandangan tentang hukum tanzim al-usrah atau perancangan keluarga atas alasan kemiskinan.
Bagi mereka yang tidak membenarkannya, mereka berhujah:
وَلاَتَقْتُلُواْأَوْلاَدَكُممِّنْإمْلاَقٍنَّحْنُنَرْزُقُكُمْوَإِيَّاهُمْ Maksudnya: Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu kerana kepapaan, (sebenarnya) Kamilah yang memberi rezeki kepada kamu dan kepada mereka. Surah al-An’am, (6:151)
Firman Allah Taala: وَعَسَىأَنتَكْرَهُواْشَيْئاًوَهُوَخَيْرٌلَّكُمْوَعَسَىأَنتُحِبُّواْشَيْئاًوَهُوَشَرٌّلَّكُمْوَاللّهُيَعْلَمُوَأَنتُمْلاَتَعْلَمُونَ
Maksudnya: Dan boleh jadi kamu benci kepada sesuatu padahal ia baik bagi kamu, dan boleh jadi kamu suka kepada sesuatu padahal ia buruk bagi kamu, dan (ingatlah) Allah jualah yang mengetahui (semuanya itu) sedang kamu tidak mengetahuinya. (Surah al-Baqarah, 2:216)
Bagi mereka yang membenarkannya, mereka memperincikan perancangan keluarga atau tanzim al-usrah kepada tanzim al-nasal (perancangan anak) dan tahdid al-nasal (membataskan anak).
Tanzim al-Nasal merujuk kepada usaha untuk menjarakkan anak dengan menggunakan kaedah-kaedah seperti memakan ubatan pil perancang, melakukan persetubuhan pada waktu tidak subur, memakai kondom, melakukan azal (ejakulasi luar rahim), dan mengeluarkan air mani daripada kemaluan wanita selepas selesai persetubuhan dan memasang peranti intrauterine (IUD) bagi tujuan pemandulan sementara.
Kaedah ini diharuskan dengan syarat-syarat:
Ini berdalilkan athar daripada Jabir RA: كُنَّانَعْزِلُعَلَىعَهْدِالنَّبِيِّصَلَّىاللهُعَلَيْهِوَسَلَّمَوَالقُرْآنُيَنْزِلُ
Maksudnya: Kami dahulu melakukan `azal pada zaman Rasulullah SAW sedangkan al-Quran sedang turun. Hadis riwayat Imam al-Bukhari (no. 5209) dalam al-Sahih
Ertinya, tiada larangan daripada al-Quran tentang perkara itu kerana jika ia dilarang nescaya al-Quran akan menyatakan larangan.
Dalam riwayat Abu Said al-Khudri bahawa Rasulullah SAW pernah ditanya tentang `azal, maka baginda menjawab:
Maksudnya: Apa yang baik atas kamu agar kamu tidak melakukannya, kerana Allah telah menulis siapakah yang menjadi Pencipta (bagi setiap sesuatu) sehingga Hari Kiamat.
Dalam riwayat Abu Said RA menyebut: لَيْسَتْنَفْسٌمَخْلُوقَةٌإِلَّااللَّهُخَالِقُهَا
Maksudnya: Tiada suatu nyawa pun yang diciptakan melainkan Allahlah Penciptanya. (Hadis riwayat Imam al-Bukhari . No. 7409)
Ertinya, jika Allah mengkehendaki seorang anak itu dikandungkan dan dilahirkan juga, tiada siapa yang boleh menghalang. Maka, pasangan yang merancang itu hendaklah reda, beramanah dan berasa tanggungjawab.
Manakala Tahdid al-Nasal menggunakan kaedah yang lebih melibatkan campur tangan perubatan yang kekal seperti pemandulan kekal dan melakukan pengguguran.
Kaedah ini dianggap haram kerana melibatkan pengubahan ciptaan Allah, merosakkan asas kehidupan dan melakukan pembunuhan. Ini juga tindakan yang menafikan Allah sebagai Pemberi Rezeki bagi ibu bapa dan anak-anak.
Apatah lagi jika ia dilakukan oleh wanita atau lelaki yang belum berkahwin. Pengecualian ialah bagi kes yang melibatkan masalah kesihatan yang mengancam nyawa seseorang wanita seperti risiko besar kematian atau menyebabkan masalah kesihatan yang kritikal bagi ibu akibat mengandung dan bersalin.
Maka ketika itu, boleh dilakukan pengguguran sebelum kandungan mencapai umur 120 hari daripada tarikh persenyawaan berlaku, atau 106 hari daripada hari terakhir haid.
Fatwa-fatwa ulama
Imam al-Ghazzali berpendapat pengguguran kandungan ialah haram mutlak sekalipun pada peringkat awal seperti nutfah kerana ianya asas kehidupan manusia.
Namun, beliau berpendapat bahawa azal ialah harus dan menyatakan beberapa niat syarie untuk melakukan azal antaranya ialah faktor ekonomi, kesihatan isteri, dan kecantikan isteri bagi tujuan kasih sayang berpanjangan antara pasangan bagi mengelakkan talaq.
Beliau juga menyatakan faktor yang fasid (rosak) yang tidak boleh diterima dan berdosa seperti takut untuk mendapat anak perempuan. Rujuk Ihya’ Ulum al-Din (2/52)
Persidangan Majma’ al-Fiqh al-Islami di bawah Pertubuhan Kerjasama Islam (OIC) di Kuwait pada 1-6 Jamadilakhir 1409 H bersamaan 15 Disember 1988 M telah memutuskan, antara lain:
Ini dilakukan berdasarkan persetujuan dan keredaan daripada perbincangan antara kedua pasangan yang sah, dengan syarat kaedah kawalan untuk tidak mendatangkan mudarat, berdasarkan kaedah yang tepat dengan syariat, dan tidak menzalimi kandungan yang sedia ada. Rujuk Majallah al-Majma’ Siri 4 (1/73)
Syeikh Atiyyah pada Mei, 1997 melalui Dar al-Ifta’ al-Misriyyah mengeluarkan fatwa atas soalan hukum melakukan pemandulan bagi tujuan perancangan keluarga bahawa dibolehkan pemandulan atas alasan kesihatan atau selainnya bagi tempoh tertentu, dengan syarat kemampuan untuk reproduksi itu kekal dan boleh digunakan kembali apabila masa berlalu.
Justeru, tidak boleh pemandulan itu dilakukan jika kesannya bersifat sempurna dan kekal sehingga hilang kemampuan dan fungsinya, melainkan wujudnya kemudaratan yang serius. Rujuk Fatawa Dar al-Ifta’ al-Misriyyah (47/10)
Muzakarah Jawatankuasa Fatwa Majlis Kebangsaan Bagi Hal Ehwal Ugama Islam Malaysia Kali Ke-28 yang bersidang pada 29 Februari 1991 telah membincangkan Sistem Susuk Norplant Dalam Program Perancang Keluarga Kebangsaan.
Muzakarah telah memutuskan bahawa Sistem Susuk Norplant ini adalah harus digunakan. Penggunaan sistem ini hendaklah tertakluk kepada keputusan Muzakarah Kali Ke-12 pada 20 Januari 1977 yang memutuskan hukum mengenai Perancang Keluarga adalah seperti berikut:
Kesimpulan
Berdasarkan soalan yang dikemukakan, merancang keluarga dibolehkan bagi kedua pasangan untuk menggunakan kaedah tanzim al-nasal yang diharuskan oleh Syarak bagi tujuan merancang keluarga dengan cara menjarakkan anak, bagi tujuan pengurusan ekonomi kerana berpendapatan rendah.
Ini perlu disertakan dengan niat bahawa jika Allah mengurniakan pasangan itu anak, maka tiada siapa yang boleh menghalang dan hendaklah pasangan itu redha kepada takdir Allah dan bersikap bertanggungjawab.
Wallahua’lam.
Isian rohani buat semua peringkat umur, semoga kita KASHOORGA bersama.
Insya-Allah, kita download
sekarang ya?
Lelaki berpakaian seperti wanita menjadi isu hangat di media sosial. Ketahui pandangan Islam, dalil hadis serta kesan normalisasi perbuatan yang ditegah syarak.