Ramai malu untuk melontarkan perasaan ini apabila bertemu lelaki disukainya. Alasannya malu selain perigi mencari timba. Namun di saat kita terikut dengan adat orang lama, ketahuilah ketika Rasulullah masih hidup, ada wanita menawarkan dirinya untuk menjadi isteri kepada Rasulullah. Jadi tiada apa yang salahnya mengenai hal ini bukan!

Dari Tsabit al-Bunani bahawa Anas bin Malik pernah bercerita, Ada seorang wanita mengadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu menawarkan dirinya untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia mengatakan, “Ya Rasulullah, apakah kamu ingin menikahiku?”

Mendengar hal itu, puteri Anas bin Malik langsung bersuara, “Betapa gadis ini tidak tahu malu. Sungguh memalukan, sungguh memalukan.”

Anas membalas percakapan puterinya dengan memaklumkan, “Dia  (wanita tersebut) lebih baik daripada kamu, dia ingin dinikahi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menawarkan dirinya untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari 5120).

Dalam hal ini, ternyata tidak salah untuk gadis melamar lelaki disukainya. Namun harus di perhalusi segalanya.

Pertamanya, tawarkan diri pada hal yang berkaitan sahaja

IKLAN

Seperti yang diceritakan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu pada hadis di atas. Demikian pula disebutkan dalam riwayat lain dari Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu, ada seorang wanita mengadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menawarkan dirinya,“Ya Rasulullah, saya datang untuk menawarkan diri saya agar tuan nikahi saya.”

Setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperhatikannya, Baginda tidak ada keinginan untuk menikahinya. Hingga wanita ini duduk menunggu. Kemudian datang seorang sahabat,‘Ya Rasulullah, jika tuan tidak berkehendak untuk menikahinya, maka nikahkan aku dengannya.’ (HR. Bukhari 5030)

Dan dari lanjutan hadis itu, sahabat tadi diminta untuk mencari mahar di mana ia haya sebentuk cincin besi.

Hadis di atas menunjukkan bahwa boleh saja  seorang wanita  menawarkan diri untuk dinikahi lelaki yang dirinya harapkan untuk menjadi pendamping hari-hari depannya.

IKLAN

Dalam kitab Fathul Bari, wanita yang minta dinikahi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak haya satu. Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqolani menyebutkan beberapa riwayat yang menceritakan para wanita lainnya, yang menawarkan dirinya untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, diantaranya Khaulah binti Hakim, Ummu Syuraik, Fatimah bin Syuraih, Laila binti Hatim, Zaenab binti Khuzaemah, dan Maemunah binti Al-Harits. (Fathul Majid, 8/525).

Tidak salah untuk wanita meminang lelaki disukainya

Kedua, melalui perantara orang lain yang amanah

Kalau malu untuk bercakap secara terus terang dengan lelaki disukai, carilah ahli keluarga seperti ayah, ibu atau teman-teman yang amanah. Ia seperti dilakukan oleh Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu, ketika puterinya Hafshah selesai masa iddah selepas kematian suaminya di mana Umar menawarkan Hafshah ke Saidina Uthman dan  kemudian ke Saidina  Abu Bakar radhiyallahu ‘anhum.

IKLAN

Umar mengatakan, “Kemudian aku menemui Abu Bakar al-Shiddiq dan berkata, ‘Jika engkau mahu, aku akan nikahkan Hafshah binti ‘Umar denganmu.’ Akan tetapi Abu Bakar diam dan tidak berkomentar apa pun. Saat itu aku lebih kecewa terhadap Abu Bakar daripada kepada ‘Uthman….” (HR. Bukhari 5122 & Nasai 3272)

Hal yang sama, pernah berlaku kepada  Khadijah radhiyallahu ‘anha di mana dirinya melamar Muhammad sebelum menjadi nabi melalui perantara temannya, Nafisah binti Maniyah. Kemudian disetujui semua pakcik-pakciknya. Ketika di majlis akad yang dihadiri Bani Hasyim dan pembesar Bani Mudhar, dan ia berlaku selepas dua bulan Baginda Nabi Muhammad pulang dari berdagang di Syam barangan milik Siti Khadijah (ar-Rahiq al-Makhtum, hlm. 51)

Dalam salah satu fatwanya, Lajnah Daimah ditanya mengenai hukum wanita yang menawarkan diri agar dinikahi lelaki yang soleh. Jawab Lajnah, jika dia seorang laki-laki yang soleh sebagaimana disebutkan maka disyari’atkan bagi wanita itu untuk menawarkan diri kepadanya atau yang semisalnya untuk dinikahi. Ini dibolehkan, sebagaimana yang telah dilakukan Khadijah radhiyallahu’anha.

Juga dilakukan oleh seorang wanita yang menawarkan dirinya (kepada Nabi shallallahu’alaihi wa sallam untuk dinikahi baginda), sebagaimana yang tersebut di surat Al-Ahzab.

Juga pernah dilakukan Umar bin Khattab radhiyallahu’anhu yang menawarkan puterinya Hafshah kepada Abu Bakar kemudian kepada Uthman bin ‘Affan radhiyallahu’anhum. (Fatawa al-Lajnah ad-Daimah, 18/48 no. 6400). Allahu a’lam. Sumber : Konsultasisyariah.com